Adnan di tiang gantungan(cerpen)

Adnan Di Tiang Gantungan

Oleh :jombi_par@yahoo.com

Tangisan dan suara isyak tangis terdengar bergantian dari mulut-mulut yang mengering

“Adnan ..kenapa kamu jadi begini…….”,.Andi mencoba menyeka air mata yang keluar dari kelopak matanya , andi termenung menatap temannya yang perlahan mulai di tutupi oleh tanah .Suara kalam ilahi mengiringi kepergian adnan ,Langitpun nampak bermuram seakan turut mengiringi kepergian adnan.

Adnan yang sebatang kara ini harus meningggalkan teman-temannya yang tak rela melihat dirinya pergi meninggalkannya.

Rasa heran dan tak percayapun terkadang terucap dari mulut kemulut di kampung serab , sebuah kampung di mana adnan tinggal bersama sahabatnya Andi,.

Perlahan tapi pasti adnan mulai hilang tertutup tanah ,dan tanah yang rata berubah manjadi gelombang dengan kedua ujungnya tertulis

“Adnan bin M.saleh.

Lahir:

Jakarta 19 November 1987

wafat :

12 Mei 2008”

segerombolan orangpun mulai meninggalkan pusaran dari tempat terakhir adnan beristirahat untuk selama-lamanya.

“Hey di…..!”. Adnan mendekati temanya andi yang juga teman sekerja di perusahan asing bidang jasa ini ,

“Eh kamana aja …lho,….”.

“Eh gw baru balik dari tasik habis lihat Bokap di………”.

“Asik dong …”.

Adnan dan andi ini memang begitu setiap saat bertemu maklum hampir lebih dari tiga tahun ini dia selalu bersama .Adnan lahir di Jakarta anak dari pasangan M.saleh dan Maesyaroh, setelah berumur tiga tahun dia pun harus kehilangan ibunya karena serangan kanker ganas.Sementara ayahnya harus berjuang keras untuk tetap melihat adnan tumbuh menjadi dewasa.

Menjadi seorang buruh pabrik memang sangat memeprihatinkan apalagi tinggal di ibukota seperti Jakarta .Kehidupan buruh sanagat tidak di perhatikan , hal inilah yang memaksa ayah adnan untuk meniggalkan gemerlap ibu kota Jakarta setelah adnan lulus SMP.

Dia pun pergi kedaerah tasik , kembali kekampung halaman tempat dia dilahirkan sementara itu adnan tinggal bersama ayah dan ibu Andi yang mersa kasihan melihat adanan yang harus berjuang keras melawan kejamnya ibukota Jakarta.Adnan mulai berusaha membiayai sekolah sendiri hingga menyelesaikan SMA – nya , dan terkadang keluarga andi pun turut membantu biayanya .

Kini Adnan mulai melupakan kesulitan yang pernah dia hadapi .tanpa melupakan jasa dan kasih sayang ayahnya sesekali dia pun mengunjungi ayahnya di tasik Malaya yang memasuki usia senja .dua hari yang lalu dia pulang ketasik menemui ayahnya yang tersiar kabar bahwa ayahnya sakit keras

“Gimana kabar ayahmu…..Nan”. dah sembuh lum..?”.

“Ya lumayan mendingan …Di” .Jawab Adnan sedikit mendesah sambil terus menghirup sebatang rokok di tangannya,.

“Ya aku Cuma bisa Bantu doa Nan …,Tahu sendirilah gimana keadaan aku ?”,

“Udah lah di ….justru aku yang harus banyak terima kasih sama kamu, khusunya keluarga kamu”,

“He…..koq kita jamdi cengeng gini sih “.Sahut andi sambil membanting mengankat kardus yang menumpuk sejak tadi,

“Ayo …kerja….kerja udah siang neh…..!!!!”.Perintah salah satu mandor di pergudangan di perusahaan exspedisi itu.

Adnan pun mulai beranjak dari duduknya dan melanjutkan pekerjaannya.

Hari yang panas berawan mungkin menjadi kodisi hari yang biasa terjadi di Jakarta , bahkan terkadang hujan lebat sampai menimbulakn bajir ,Ya inilah ibu kota Jakarta yang terkenal sebagai kota metropolitan.

“Di …perasaanku enggak enak neh…..,dari tadi malam mimpiku selalu bertemu dengan mendiang ibuku, padahal aku tidak begitu tahu tentang ibuku.”..

“Nan …mimpi itu kan Cuma bunga tidur ,jadi kalau mimpi lho seperti itu ,mungkin lho nya aja yang selalu memikirkan mendiang ibumu!”..

Andi sedikit menceramahi Adnan yang semenjak pagi terlihat murung,.

“Sudah lah….Nan, jangan lho sia-siakan liburan yang Cuma seminggu sekali…..ini”.

“Aku khawatir….sama …..”,belum selesai Adnan bicara dengan segera andi pun memotong perkataannya.

“Maksudmu ….tentang ayahmu kan ?, Nan …Nan bukankah dua bulan yang lalu kamu sudah menemuinya ,.Kalaupun ada apa-apa pasti kasih kabar ke lho kan…?”

“Iya sih di…..”.

“Eh pagi-pagi pada ngbrol mulu sarapan dulu geh……! .ibu udah siapkan sarapan buat kamu. kalau udah sarapan mau kemana ke,…kan jadi lebih enak…

Ayo…Ayoo…..!”.Ibu marinah pun menuju meja makan yang sederhana itu.sementara pak Hariman ayah andi sudah menunggu mereka untuk sarpan pagi dengan lauk alakdarnya.

Di meja makanpun Adnan terus saja mengeluarkan keluhannya ,dan sesekali pak hariman mencoba membesarkan hati seorang Adnan.”

Derau container merubah suasana tenang menjadi penuh dengan kegalauan ,perlahan tapi pasti waktu terus berputar meninggalkan edarnya.

Bergantian kardus itu berjalan menuju gudang tempat penyimpanan barang

“Hey ……di kamu kenal enggak dengan yang namanya Adnan ?”…tadi kudapat surat dari pak mandor personalia pak heru…..”,

“Apa aku enggak dengaer…….”.sambil menutup kupingnya Andi mendkati salah seorang karyawan yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.

“kamu tahu enggak dengan Adnan …?.”

“Oh Adnan …..tahu…tahu….dia emang saudara gw…,emang ada apaan sih?”

“Ini di aku dapat surat buat Adnan entar tolong disampaikan, kelihatannya penting banget neh….”.lelaki yang lebih muda dari Andi itu pun menepi bersama Andi sambil mendiskusikan soal surat yang di terimanya sejak tadi pagi.

“Oh ya ….kalau gitu entar aku sampaikan dech..sama Adnan makasih ya …”.sahut Andi pada irwansyah, yang merupakan karyawan baru disitu.

“Ada apa ya …tapi kayak nih surat dari tasik neh..,atau jangan –jangan soal …,Ah paling-paling minta biaya buat ayah nya yang sakit.,nanti sore juga masih bisa. “

Andi tidak menaruh curiga sama sekali dengan isi surat itu .

Andi terus menyelsaikan pekerjaan ya kebetulan pekerjaan Adnan Andi lah yang menanganinya. Adnan sendiri hari ini tidak masuk kerja katanya sih lagi enggak enak badan,menjelang sore Andi pun segera pulang kerumahya.

“Di aku harus pamit dulu sama ayah dan ibu kamu..” jsambil mengankat tas rangsel yang ada di atas tempat tidurnya.

“Kamu jadi pulang ke tasik……terus udah dapet duit buat biaya ayah kamu ?”,

Tanya Andi sambil bersalaman dengan sahabatnya itu , .

“Udah di ,,,ya walupun harus dengan setahun gaji….aku…,demi orang tuaku aku rela di”.

“Gila kamu ….stahun gaji kamu, Emang kamu pinjam dimana Nan ?.”.Andi terkaget dengan kenekatan Adnan yang meminjam uang pada lintah darat demi ayahnya yang sedang sakit keras.

Dan Adnan pun tak tahu kapan dia akan membayar pinjamannya itu.

“Enggak..apa-apa Di, dari pada aku mengharap pinjaman dari kantor dan ternayata sampai tiga hari ini aku belum mendapatkan uang itu ,sementara ayahku di kampung sangat membutuhkan uang nih….”. wajah Adnan memerah matanya mulai berkaca-kaca, tangannnya segera meraih sapu tangan disakunya kemudian diapun menyeka air matanya .

“Aku bangga punya sahabat kaya kamu Nan ,…harusnya kau iri melihat kamu Nan…aku Cuma berharap ayahmu bisa sembuh dan kamu bisa kembali kesini Nan…”.

“Terimaksih Di kamu udah ..kasih semangat buat aku”.

Andi pun tak kuat menahan haru di pagi hai itu, sambil menahan air matanya Andi seakan tak mau melepas pelukannya dari Adnan .

Setelah berpamitan dengan kedua ornag tua Andi, Adnan pun segera melangkah kakinya menuju kampung Ciwideuy sebuah kampung yang terletak di kota Tasik .

“Eh….den Adnan …,kapan datang ,”.Tanya salah satu teatangga di kampung ayahnya nih,

“Baru tadi Mang ,Kamar bapak di sebelah mana…ya.? mang saya pengen ketemu bapak…..”.

tanya Adnan kepada lelaki setengah baya itu.

Lelalaki itu pun segera mengantarkan Adnan menuju kekamar di mana ayahnya dirawat dirumah sakit di kota tasik nih….

“Adnan ……”. Sambil terisak –isak lelaki senja itu datang merangkul tubuh Adnan yang sejak tadi malam tidak bisa beristirahat memikirkan ayahnya.

“Uwa….Adnan minta maaf udah ngerepotin Uwa , “.Nan ada juga uwa yang harus minta maaf karena adik uwa, kamu jadi susah begini,”

“Biar gimanpun Dia tetap ayah saya Wa… dan saya tahu dia meninggalkan saya bukan berarti dia enggak sayang sama Adnan ,justru dia enggak mau nglihat Adnan seperti dia”.

Adnan mencoba menenagkan Uwanya( kakak dari ayahnya).

Pak saleh nampak tak berdaya diatas diranjang tempat ia dirawat, badannya terbujur kaku tanpa bisa melihat putarnya datang .

Satu jam lalu dokter mangatakan bahwa pasien dalam keadaan kritis karena tumor ganas yang di idapnya, dan dokter menyarankan agar pak saleh dirujuk kerumah sakit Muhamad Ali sadikin yang berda di bandung, Akan tetatapi Uwa Adnan tidak mampu membayar biaya rumah sakit selama pak saleh dirawat.

Kini terlambat sudah pak saleh telah pergi meniggalkan Adnan ,kakaknya dan semua yang menyanginya.

Adnan yang selalu tegar dalam mengahdapi hiup kini diapun tak kuasa menahan tangis melihat ayah nya pergi untuk selama-lamanya .

Berkali-kali dia merangkul tubuh yang trebujur kaku seakan berkata” Ayah kenapa kau tinggalkan aku sendiri di muka bumi ini” .akan tetapi semua itu tak akan pernah bisa mengemabilkan ayahnya lagi.

Haru dan tangis mengiringi kepergian pak saleh sampaii akhirnya jenazah pak saleh di kebumikan.

Hampir satu minggu Adnan di tasik dia tak pernah tahu keadaan temapt kerjanya .dia nampak enggan meniggalkan kota tasik .kan tetatapi karena kewajibanya untuk membayar hutang atas uang yang di pinjamnya ,maka dia pun kembali kejakarta.

Hampir satu minggu Adnan tidka masuk kerja dan hapir satu setngah bulan setelah ayahnya meninggal selama itu pula Adnan lebih sering menyendiri ,. Andi juga sempat merasa bingung melihat perubahan temannya tersebut, tak sedikit Andi memberikan nasehat pada Adnan tapi tetap saja Adnan lebih menunjukan sikap murungnya tersebut,

“Mas Andi…Tahu….enggak di perusahaan kita akan ada pengurangan jumlah klaryawan “.

“Ah ….yang bener kamu Wan….Emang apa alasannya pake mau ada PHK”.

“Ya biasalah Mas, katanya sih gara-gara Naiknya harga BBM, …”.

“Terus berapa karyawan yang mau dikurangi wan…,Barang kali aja kamu tahu informasinya “,

Sambil teus menyantap makan siangnya dikantin yang berada di perusahaan temapat dia bekerja.

“waduh…..mas kalau soal itu saya juga enggak tahu utch Mas “. Sambil menguyah makanan yang ada dimulunya dia pun melanjutkan prtanyaannya .

“Oh ya ,…Mas ,Mas Adnan kemana Mas ?, Kok jarang kelihatan .Emang engak bareg sama Mas Andi lagi?”

“Itulah wan saya juga bingung engan Adnan akhir-akhir ini…Dia lebih suka menyendiri dan beda sama Adnan yang dulu aku kenal…”.

“Apa karena baru tinggal orang tuanya, kali ya?”,

“Mungkin juga sih , Tapi aku yakin Adnan bukan tipe orang yang mudah menyerah jadi…”,

sejenak dia berhenti lalu kemudian di melanjutkan ucapannya.

“Dah …biar aja dulu ,suatu saat dia akan kembali kesifat aslinya saya yakin itu..Wan “.

“Ya mudah-mudahan gitu ya mas”.

Kedua lelaki yang nampak akrab ini melajutkan makan siangnya sambil terus bercakap dan sesekali keluar tawa dan gurau dari mulutnya.

Pengurangan jumlah karyawan sebagai dampak dari kenaikan BBM merupakan hal yang sudah tidak menjadi rahasia umum lagi.Apalagi seperti perusahaan Exspedisi tempat Adnan dan Andi bekerja tentunya BBM merupakan slah satu sumber agar perusahaannya tetapa Exist

Wajah Adnan nampak kurang semangat sepertinya penuh dengan masalah. Tak terlihat lagi Adnan yang penuh semangat seperti dulu.

Setelah kleluar dari ruangan administrasi kantor di perusahaannya Adnan bekerja ,dia jadi lebih tak gairah jalannya pun meruduk lemas ,

Di bukanya surat disakunya kemudian dia pun segera membaca , setelah membaca surat itu Adnan tak sedikitpun ber –Ekspresi .dia hanya diam, walaupun sebenarnya surat itu merupak surat PHK dari perusahaannya .

“Hey …Nan kamu enggak di PHK kan”. Tanya Andi ..

“Ya …Enggak lah “.jawab Adnan dengan cepat…

“Mangnya ada apa kok nanya gitu….”.

“Ya Cuma mastiin doang kalau omongan orang soal PHK di perusahan kita itu emang enggak benar.”..lho kamu kayak enggak seneng gitu ..”

“Sory Di aku lagi enggak enak badan , ini aja aku mau pulang”.

“Ya udah mendingan kamu istirahat aja di rumah…!” Saran adndi pada Adnan .

Tak lama dari itu Adnan pun segera meninggalkan tempat dia bekerja, dalam perjalana Adnan merasa gelisah dengan pembayaran hutang yan cukup besar itu ,sementara dia telah berhenti dari pekerjaannya. Seakan –akan Adnan telah berubah menjadi Adnan yang pengecut

Entahlah sampai drumah dia hanya termangu menatap langit yang hari itu sedikit mendung….dilirik sebuah kabel ……yang melilit di belakang TV Dia pun beranjak menuju kamar mandi .

Entah setan apa yang telah hinggap di benak Adnan hingga akhirnya dia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara yang hina ……..

Seutas tali mencekik leher Adnan sementara badannya tergantung dikamr mandi itu ,Satu masalah telah diselesaikan Adnan yaitu jeratan ekonomi dan rasa frustasi yang menyerangnya.

Tapi masalah lain telah menuggunya dari sikapnya yang mudah putus asa.

“Kereta ekonomi (KRL) jurusan Jakarta –berangkat statsion depok baru”, .Begitulah suara yang kudengar ketika aku selesai membaca cerpen yang cukup membuat aku terenyuh dan merasa terharu.

Dan tak terasa waktu sudah menunjukan 07.45 wib .artinya jam 08.00 aku sudah harus nyampe dikampus

Akhirnya aku pun segera naik KRL jurusan Jakarta – kota ,kebetulan aku turun di statsion kampus UI. Dan tak lama dari itu aku pun sudah sampai di statsion UI.

The End

One response to “Adnan di tiang gantungan(cerpen)

  1. Photoshop CS6 Download Juli 7, 2013 pukul 2:45 pm

    Wow, this post is good, my younger sister is analyzing such things, therefore I am going to convey her.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: